Netizen Menilai Puisi Sukmawati Soekarnoputri Termasuk Penistaan Agama

Sukmawati

SerbaBisa – Putri mendiang Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi karyanya sendiri yang berjudul Ibu Indonesia dalam acara 29 Tahun Anne Avantie, Berkarya” di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3) lalu. Puisi tersebut mendapatkan banyak tanggapan keras dari netizen.

Ada dua hal yang menjadi masalah dalam puisi ini, yang pertmana saat puisi Sukmawati menyatakan bahwa konde ibu Indonesia lebih cantik dari cadar, Aku tak tahu syariat Islam. Yang ku tahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu.

Bagian kedua adalah saat dia mengatakan bahwa kidung ibu Indonesia lebih merdu dari alunan azan.

Aku tak tahu syariat Islam. Yang kutahu suara kidung ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azanmu.

Tidak hanya digugat soal agama saja, Puisi itu juga mendapatkan protes karena dinilai penggambaran Ibu Indonesia yang terlalu dibawa kearah jawa, Saat dikonfirmasi mengenai puisinya yang dibacakan, Sukmawati menjelaskan pendapatnya adalah benar.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh saja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu suatu opini saya sebagai budayawati,” kata Sukmawati.

Pada 3 April, Sukmawati pun dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Ketua DPP Partai Hanura Amron Asyhari.

“Ini telah menghina dan melecehkan kami sebagai umat Islam, saya minta agar polisi segera mengusut kasus ini,” kata Amron.

Pengacara bernama Denny Andrian juga melaporkan hal yang sama.

Menurut ahli kajian Islam dan gender Lies Marcoes, kasus ini adalah kasus yang terus berulang-ulang sejak zaman Ki Pandji Kusmin pada 1970 silam.

Ki Pandji Kusmin adalah nama pena pengarang cerpen Langit Makin Mendung, yang diputuskan oleh pengadilan telah menista agama dan melanggar pasal 156 KUHP.

Karena menolak memberitahu siapa sebenarnya Si Pandji Kusmin, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra, HB Jassin, diadili sebagai penanggung jawab dan dihukum satu tahun penjara.

Dan saat ini, pasal yang sama juga digunakan untuk melaporkan Sukmawati Soekarnoputri, dalam tanda bukti pelaporan yang diperoleh BBC, Sukmawati dilaporkan atas tuduhan penistaan agama Islam, dengan pasal 156 A KUHP dan atau pasal 16 UU no 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi dan ras juga etnis.

Lies, pendiri Yayasan Rumah Kita Bersama, memahami protes para pelapor. “Saya mengerti kenapa orang tersinggung, karena azan adalah sesuatu yang bermakna, sesuatu yang penting, tapi Sukmawati mengekspresikan diri juga sah-sah saja,” kata dia.

Menurutnya puisi adalah pengalaman batin yang tidak bisa diukur. “Puisi itu apa sih? Puisi kan wahana untuk mengekspresikan rasa dengan bahasa. Kalau Ibu Sukmawati merasa lebih tergerak karena kidung atau desau angin, itu eskpresi dia. Tidak ada yang berhak mengadilinya,” kata Lies.

“Tapi memang puisi itu agak keliru saat mencoba membandingkan posisi satu hal dibanding yang lain,” kata dia.

Pada sisi lain, menurut Lies, melaporkan Sukmawati ke Polisi juga adalah hak bagi mereka yang merasa dirugikan. Sebab, Indonesia adalah negara hukum.

“Tinggal negara yang menentukan, apakah punya regulasi yang jelas dan berdiri di atas aturan yang jelas dan konsisten,” kata dia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *