Suharto Gagal Menjadi Pahlawan Nasional

Bandar – Soeharto pernah diusulkan menjadi pahlawan nasional, Namun usulan tersebut terancam pupus atas kasus penyelewengan dana Yayasan Supersemar, Presiden ke-2 RI ini menjadi Ketua Yayasan Supersemar sejak 1974 hingga 1998. Pada periode tersebut, Soeharto menyelewengkan dana yayasan.

Uang yang seharusnya di beasiswakan ke sekolah dan pendidikan malah dibelokan ke perusahaan swasta dan investasi di berbagai bidang.

Yayasan supersemar sendiri telah mengembalikan Rp.241 Miliar kepada negara melalui rekening bank PN Jaksel atas kasus penyelewengan dana yayasan berdasarkan keputusan Mahkamah Agung (MA) yayasan Super semar harus membayar Rp 4,4 triliun ke negara.

Hal ini sebagai bukti ketua Yayasan Supersemar Presiden Soeharto cacat dan tidak berhak mendapatkan gelar kepahlawanan nasional.

Dalam Pasal 25 UU 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan menyebutkan syarat umum seseorang untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional yakni:

a. WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
b. memiliki integritas moral dan keteladanan;
c. berjasa terhadap bangsa dan negara;
d. berkelakuan baik;
e. setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; dan
f. tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

Pakar hukum tata negara Dr Bayu Dwi Anggono menilai Soeharto tak memenuhi ketentuan soal integrasi moral dan keteladanan serta juga ketentuan berkelakuan baik.

Soeharto digulirkan dalam Munaslub Golkar di Badung, Bali, pada Mei 2016 lalu. Saat itu, forum mengamanatkan Ketum Golkar yang terpilih harus memperjuangkan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Tokoh penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu merupakan figur senior Golkar.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *